
KONAWE, Sulawesi Tenggara ¶ Binkari – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Konawe merupakan pesta demokrasi yang dinanti-nantikan oleh masyarakat di ratusan desa yang akan mencoblos pada tanggal 31 Oktober 2022.
Penantian selama 6 tahun ini menjadikan masyarakat rindu dengan pemimpin yang diinginkan untuk lebih membangun desanya menuju desa yang mandiri dan berkembang kemajuannya.
Lidiawati S.Pd merupakan salah satu kandidat incumbent yang diinginkan masyarakat untuk maju kembali pada pesta rakyat desa itu. Dia mempunyai misi bekerja keras untuk membangun desanya tanpa batas, serta tidak membedakan suku, ras, atau golongan.
Saat ditemui awak media Bintang Bayangkara Indonesia (Binkari) di kediamanya (4/10/2022), Dia menjelaskan bahwa di akhir masa jabatannya tidak punya niat lagi untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa.
Tapi masyarakat masih menginginkannya untuk mengikuti kembali pemilihan Pilkades. “Saya sudah tidak mau lagi ikut pencalonan, tapi masyarakat masih menginginkan saya, dan mendorong saya untuk maju kembali. Ya terpaksa saya harus mengiyakan kemauan mereka yang begitu antusias.” Tutur Lidiawati yang selalu memperhatikan masyarakatnya.
Kembali kami menanyakan tentang program kerja ibu Lidiawati ketika terpili kembali, “Insyaalah semua rencana kegiatan yang telah kami susun kedepan akan kami lanjutkan, akan tetapi semua itu tidak terlaksana degan baik tanpa dukungan masyarakat, utamanya Badan Permusyawaratan Desa (BPD).” Kata ibu incumbent itu, Dia menutup perbincangannya dengan santun, sambil menjelaskan bahwa jumlah wajib pilih di Desa Dawi-Dawi adalah 389 orang, 158 Kepala Keluarga (KK).
Terpisah, salah satu warga berhasil di wawancarai, bahwa kenapa mereka masih menginginkan Ibu Lisdawati harus kembali, “di desa Dawi-Dawi ini menurut kami beliau bersahaja, dekat dengan masyarakat, lalu cepat tanggap tentang keluhan kami. Selama periode pertama masyarakat sangat puas dengan kepemimpinannya, walaupun di sana sini masih ada yang kurang, ya itulah manusia biasa tak ada yang sempurna.” Ungkap warga yang enggan namanya disebut.
Dia menambahkan, “apa lagi kami pernah kena bencana banjir di tahun 2019, disusul lagi di tahun 2020 wabah Covid 19 selama dua tahun. Jadi wajar kalau pimpinan kami punya kekurangan di bidang infrastruktur. Tapi bukan berarti beliau menyala gunakan anggaran, penyebabnya adalah itu tadi bahwa jalan dan drainase baru di kerjakan datanglah banjir, akhirnya amblas bahkan hancur. Begitu pula di tahun 2020 muncul Covid, akhirnya program pemdes di refokusing untuk penanganan virus yang mematikan itu.” Tandas warga, sembari berharap cinta damai pada Pilkades nanti, dan siapapun terpilih harus di hormati karena tetap menjadi pimpinan semua masyarakat di Desa Dawi-Dawi.
(Adrian)

