
TAHUNA, Sulawesi Utara ¶ Binkari – Budaya Sangihe yang melekat pada masyarakat binaan Lapas Tahuna terus dilakukan demi menjaga kelestariannya. Dendangan lagu Sangihe diiringi dengan keroncong menjadikan mereka terhibur.
Bahkan warga binaan ini mendapatkan berbagai pendidikan melalui program yang dilaksanakan oleh negara melalui Kalapas Kelas II B Tahuna bapak Suharno.
Didalamnya ada pendidikan pengelasan, merangkai bunga dan lain sebagainya. Mereka terdidik, pintar mengelas, bahkan salah satu warga binaan mengaku bahwa setelah keluar lembaga Pemasyarakatan akan membuka bengkel las atau pergi bekerja di perusahaan di daerah lain khusus mengelas.
Rasa kekeluargaan terlihat pada saat Media Bhayangkara Indonesia atau Bharindo dan Binkari mengunjungi Lapas Tahuna pada hari Sabtu 22 Oktober 2022. Diantara satu dengan yang lain menyatu bagaikan keluarga, tak ada perbedaan perlakuan oleh Kalapas Tahuna bersama stafnya, semua diperlakukan sama, layaknya saudara sendiri.
Bahkan warga binaan berkata, akan berubah setelah di luar nanti, “kami berjanji ingin sukses setelah keluar dari Lapas Tahuna. Kami tak mau kembali ke masa lalu, kami ingin menatap masa depan yang ceria.” Tutur beberapa warga binaan kepada media ini.
Terharu mendengarnya, rata-rata dari 147 warga binaan berumur masih muda, terpancar di raut wajah mereka yang berseri punya ketulusan menjalani binaan dari Kalapas dan para stafnya.
Kalapas yang berpengalaman membina warga binaan, pernah bertugas di beberapa Lapas di Indonesia. Bahkan di Lapas yang bisa dikatakan paling seram yaitu di Nusa Kambangan.
“Saya sudah keliling menjadi Pimpinan Lapas di beberapa daerah, bahkan pernah staf di Nusa Kambangan, dari pengalaman ini saya ingin menjadikan warga binaan menjadi lebih baik lagi dan membina mereka supaya sukses setelah selesai menjalani binaan di Lapas Kelas II B Tahuna ini.” Kata Kalapas bapak Suharno dengan santun, sembari berharap bersinergi dengan semua pihak demi kebaikan semua.
Lanjutnya, “kami selalu terbuka atau transparan terhadap siapa saja, kami butuh kritik dari rekan-rekan wartawan dan LSM demi kelancaran tugas kami, dan sekali lagi kami tidak anti kritk, kami butuh masukan.” Tandas Kalapas penuh hormat.
(Gambatte Asril)

