
SANGIHE, Sulawesi Utara⚡️Binkari – Suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan mewarnai perayaan Halalbihalal dan Lebaran Ketupat yang digelar di Kampung Petta, Sabtu (12/04/2024). Kegiatan yang dipusatkan di kompleks Terminal Petta ini dihadiri langsung oleh Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, dan Wakil Bupati, Tendris Bulahari, serta mengusung tema “Merajut Kebersamaan, Meneguhkan Silaturahmi Bersama Pemerintah dan Masyarakat.”
Ratusan warga tumpah ruah mengikuti kegiatan yang menjadi ajang mempererat silaturahmi ini. Berbagai tokoh penting turut hadir, di antaranya Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sangihe, Wahidin Mandahari; Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Utara, Sutardji Adipati; Ketua Muhammadiyah Kabupaten Sangihe, M. Ali Liuntuhaseng; serta Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Novita Koera.
Tampak pula para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Sangihe, unsur Forkopimca Tabukan Utara, dan para Kapitalaung dari Kampung Petta, Petta Barat, Petta Timur, Petta Selatan, serta Kapitalaung Bukide dari Kecamatan Nusa Tabukan. Hadir juga Ketua BTM dan Imam Masjid Al-Jihad Petta, yang memperkuat sisi religius dari perayaan ini.
Ketua Panitia, Abdul Azis Ma’aling, menyampaikan terima kasih atas kehadiran para tokoh dan partisipasi masyarakat. “Kehadiran Bupati dan Wakil Bupati adalah wujud nyata dari perhatian dan kepedulian pemerintah terhadap masyarakat. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk nyata silaturahmi antara pemimpin dan rakyatnya,” ujarnya. Ia juga mengajak seluruh warga untuk terus bergandengan tangan dalam membangun kampung dan daerah tercinta.
Kegiatan ini semakin bermakna dengan tausiyah dari Ustadz Supriadi Haribae, Ketua Da’i Muda Sulawesi Utara, yang menyampaikan pesan-pesan penting tentang hikmah Halalbihalal dan pentingnya menjalin ukhuwah.

“Halalbihalal ini adalah momentum untuk memperbaharui niat dan semangat membangun kehidupan yang harmonis. Silaturahmi bukan hanya memperpanjang umur dan membuka pintu rezeki, tetapi juga memperkuat pondasi sosial yang sehat di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Ustadz Supriadi Haribae juga mengajak umat Islam agar tidak berhenti pada seremoni semata, tetapi melanjutkan semangat Ramadhan dengan amal sosial, gotong royong, dan saling menjaga antar sesama.
“Jika kita menjadikan kebersamaan sebagai nilai utama, maka akan lahir rasa saling percaya, saling mendukung, dan akhirnya tercipta masyarakat yang damai dan sejahtera,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada masyarakat Kampung Petta atas sambutan hangat yang diberikan. Ia menekankan pentingnya meninggalkan sekat-sekat perbedaan untuk bersama-sama membangun daerah.
“Tidak ada lagi perbedaan warna, tidak ada lagi pembeda antara satu dan lainnya. Saatnya kita bersatu sebagai satu keluarga besar Kabupaten Kepulauan Sangihe. Persatuan dan silaturahmi inilah yang akan membawa kita pada kemajuan,” tegasnya.

Bupati Thungari juga menyampaikan harapannya agar semangat Halalbihalal tidak hanya hidup di momentum ini, tetapi menjadi budaya yang terus mengakar di masyarakat. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk saling mendukung dalam berbagai bidang, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan.
“Saya pribadi sangat terharu, karena Kampung Petta adalah bagian dari perjalanan hidup saya. Masa kecil dan remaja saya banyak dihabiskan di kampung ini. Kembali ke sini sebagai Bupati bukan hanya nostalgia, tetapi juga tanggung jawab untuk membangun kampung yang turut membentuk karakter saya,” ujarnya.
Ia pun menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus dekat dan hadir di tengah masyarakat.
“Pemerintah bukan entitas yang jauh. Pemerintah adalah bagian dari masyarakat itu sendiri. Dan kami hadir untuk mendengar, melihat, dan bekerja bersama rakyat,” tandasnya.
Kapitalaung Kampung Petta, Jalil Liuntuhaseng, dalam kesempatan yang sama menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang tinggi atas kehadiran para tokoh daerah. “Semoga semangat ini terus hidup, dan silaturahmi seperti ini menjadi tradisi yang mempererat kita semua,” ungkapnya.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama, ramah tamah, serta makan ketupat bersama merupakan sebuah simbol kuat dari rasa syukur, persaudaraan, dan kebersamaan seluruh masyarakat Kampung Petta dan sekitarnya.
GA

