
SANGIHE, Sulawesi Utara⚡Binkari – Setiap orang pasti ingin memiliki tempat tinggal yang layak, nyaman dan aman. Namun karena keterbatasan biaya, untuk membangun rumah layak huni hanya impian di dalam hati.
Hal ini di rasakan oleh salah seorang warga yang tinggal di Kampung Petta kecamatan Tabukan Utara kabupaten Kepulauan Sangihe. Sukardi Ussu (40) tinggal di sebuah gubuk berukuran 5 x 4 meter bersama dengan dua orang anaknya.
Rumah yang mereka tempati memang sangat tidak layak huni, dinding yang terbuat dari anyaman bambu sudah mulai rapuh dimakan usia, demikian pula dengan balok penyangga yang juga rapuh. Sementara di dalam rumah juga hanya berlantai tanah.

Yang lebih memprihatinkan lagi, pada bulan Desember tahun 2022 lalu, rumah tersebut dihantam angin kencang, yang mengakibatkan atap rumah tersebut terangkat, dindingnya juga runtuh. Tapi sangat di sayangkan hingga kini tak dapat bantuan dari pihak yang berkompeten.
Sedangkan menurut warga di sekitar, pemerintah kampung sehari setelah kejadian langsung turun mengambil data dan memotret kerusakan yang di sebabkan oleh angin pada Desember 2022 lalu.
Bangunan yang didirikan di atas lahan miliknya itu, mulai ia tempati bersama keluarga sejak sepuluh tahun yang lalu. “Kami tinggal disini sudah lebih sepuluh tahun dengan keadaan seperti ini,” ucapnya.
Disinggung soal bencana yang terjadi pada Desember 2022 lalu, ia membenarkan. “Ya benar itu terjadi, atap rumah terangkat, dinding jatuh, dan bahkan lumpur masuk ke dalam rumah. Dan Alhamdulillah, saat kejadian kami sudah mengungsi di rumah orang tua.” Jelasnya, mengenang kejadian itu dengan wajah sedih.

“Setelah kejadian itu, pemerintah kampung datang mengambil data dan memotret kerusakan yang terjadi. Tapi herannya sampai saat ini tidak ada bantuan yang diberikan.” Sambungnya.
Dan katanya, Dia juga tidak terdaftar sebagai penerima bantuan baik dari Bantuan Langsung Tunai (BLT) dana desa ataupun lainnya. Apakah memang warga masyarakat seperti ini tidak layak mendapat bantuan?
Sementara itu, Kepala Kampung Petta, Jil Lintuhaseng, “Bapak Sukardi adalah warga saya, dan beliau penerima BLT sejak tahun 2021 sampai 2022 bahkan 2023.” Ungkap Kades, saat dihubungi via telpon seluler, Rabu 23 Agustus 2023.
Ditambahkannya, “Perihal tragedi tahun 2022 itu memang benar, lalu dambil data berupa foto rumah yang rusak dan lain sebagainya. Sudah di usulkan pada saat Rapat Rencana Kerja Pemerintah tahun 2022 namun karena keterbatasan anggaran sehingga tidak terealisasi di tahun 2023, dan akan menjadi usulan prioritas di tahun 2023 untuk stimulan RLH Tahun 2024.” tandas Lintuhaseng, sembari mengapresiasi masukan dari warganya Sukardi terhadap dirinya sebagai Kapitalaung.
Np

